WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label ide bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ide bisnis. Tampilkan semua postingan
Bisnis sepatu?uda banyaaak. Eitz tapi jangan salah, walaupun banyak tapi bisnis sepatu selalu menggiurkan lho. Memang perlu inovasi dalam bisnis ini biar bisa dikenal dan dicintai penggunanya. Nah kali ini saya punya ide untuk membuat sepatu “khusus” ukuran besar.



Sebenarnya ini lebih kepada kebutuhan pribadi sih, cari sepatu local ukuran gede itu susaaaaaaaaaaaaaah banget. Dari sepatu olahraga sampe sepatu casual itu susah banget nyarinya. Ukuran kaki saya sebenarnya gak gede-gede amat sih, cuma ukuran 45-46 gitu. Memang ukuran kaki pria rata-rata di Indonesia itu 42-44. Tapi kan itu dulu, sekarang gizi anak Indonesia udah lebih baik, orang yang tingginya diatas 180 itu uda mulai banyak. Gak percaya? Coba aja cek kampus-kampus atau sekolah. Belum lagi olahraga basket tanah air juga udah mulai bangkit, pasti makin banyak tu kaki-kaki oversized yang bakal kesulitan nyari sepatu. Nah ini jadi peluang bisnis buat kita. Sepatu impor kan ukurannya banyak yang gede? Memang banyak, tapi importir Indonesia masih jarang ambil yang ukuran besar, paling beberapa kayak sepatu basket dengan jumlah terbatas.

Perbedaan antara cowok dan cewek dalam nyari sepatu, kalau cowok pasti nyari kenyamanan dulu yang utama. Kalau uda nyaman pada satu merek biasanya bakal setia tuh sama merek tersebut. Cowok jarang gonta ganti sepatu? itumah jaman dulu keles. Jaman sekarang banyak cowok yang hobi dan koleksi sepatu. Beda baju beda juga warna sepatunya. Lagian sepatu cowok itu banyak banget, dari sepatu long boots buat naik motor, low boots buat ke kantor, sepatu pantofel buat rapat penting, sepatu naik gunung, sepatu bola, sepatu futsal, sepatu lari, sepatu basket, dll. Sepatu cowok juga umumnya gak awet karena pemakaian yang terus menerus. Jadi masih bilang sepatu cowok gak prospek?

Jadi mau produksi atau jadi reseller? Saya akan jelaskan masing-msing keuntungan dan kelebihannya.

Produksi sendiri
Kalau produksi sendiri tentu perlu modal lebih besar buat beli mesin, bahan, bayar upah, tempat, dll. Bisa juga sih tinggal pesen custom nanti kita kasih merek sendiri kayak bisnis sepatu local kebanyakan. Yang jelas, kekurangannya adalah perlu banyak modal! Terus lumayan ribet juga harus ngurus produksi juga. Keuntungannya adalah kita bakal punya brand. Produk yang dibuat berdasarkan keinginan kita. Lebih banyak inovasi bisnis dalam urusan design, sehingga kita lebih optimis dan bangga dalam mengerjakannya. Dengan brand ini kita juga bisa produksi sepatu dengan ukuran yang biasa (lebih kecil). Pengembangan produk juga memungkinkan, bisa dari brand tersebut bikin produk lain seperti tas, baju, dll. Kalau brand anda semakin besar, anda dapat menjual ke berbagai reseller rutin dan membuka toko di beberapa tempat, Memungkinkan juga untuk membuat pabrik besar dan melakukan import.

Reseller
Jualin produk orang bukan berarti kita babu dari pemilik brand. Justru lebih banyak keuntungan yang kita dapat. Memang sih kita gak bisa berinovasi dengan produknya, kadang susah juga  nyari produk berkualitas yang sesuai dengan keingininan kita. Tapi dengan tidak memproduksi sendiri, kita bisa lebih focus jualan. Dengan modal yang lebih sedikit, kita bisa mendapat keuntungan yang lebih besar, perputaran uang juga lebih cepet. Produk yang dijual bisa lebih beragam, bisa sepatu olahraga sampai sepatu formal. Gak perlu lagi pusing dengan design, kalau kalian liat produk tersebut bagus dan bakal laris ya tingal kita beli nanti jual lagi. Pengembangan bisnis bisa juga bisa sampai menjual produk selain sepatu. Apalagi jika menjadi reseller partai besar yang mensuplai toko-toko kecil, maka anda akan mendapat keuntungan yang berlipat juga. Menjadi importer atau eksportir akan menjadi keuntungan dari bisnis ini.



Balik lagi ke ide bisnis. Kali ini gua mau menjabarkan apa yang menjadi cita-cita dimasa depan nanti. Ini kayak cita-cita goal dari hidup gua di masa tua nanti. Karena emang gua nulis blog ini kan emang buat gua baca lagi di masa depan. Moga-moga ini jadi pengingat di beberapa tahun yang akan datang.

Apakah Projek Budaya itu?
Jadi sebenrnya projek budaya adalah bisnis yang lebih mengedepankan aspek sosial budaya daripada keuntungan bisnis. Ya klo dipersenin itu ya tujuan sosial budaya punya bagian 65% dan sisanya bisnis. Kenapa harus sosial budaya? Karena disini ada misi agar budaya tersebut dapat dilestarikan oleh generasi-generasi berikutnya. Kenapa harus dibisnisin? Karena kalau project ini gak menguntungkan maka umur project ini gak akan lama, sedangkan pelaku-pelaku yang ikut melestarikan budaya butuh melanjutkan hidup, bisa dibilang disini gua mau menjadikan ini sebagai mata pencaharian agar pelaku budaya bisa tenang dan nyaman ngelakuinnya. Selain itu karena ini prinsipnya menguntungkan, diharapkan dapat menyerap minat dari masyarakat sekitar.

Apa bentuk dari projek budaya?
Projek ini rencana gua mau terapkan dalam beberapa sub bagian. Dimana masing-masing dari bagian tersebut saling mempengaruhi. Sektor bisnis yang paling utama adalah pariwisata, jadi gua mau bikin satu komplek yang terdiri dari bangunan-bangunan arsitektur jawa jaman dahulu, dengan beberapa gedung difungsikan untuk tujuan yang berbeda sesuai sub bagiannya. Sub bagian terdiri dari project seni pertunjukan, batik, gallery seni rupa,kuliner tradisional,  jamu tradisional, arena permainan tradisional, dan lain-lain. Nanti tiap bagian akan gua jelaskan secara mendetil di lain post.


Apakah tujuan dari projek ini?
Tujuannya yang utama adalah untuk melestarikan budaya, setelah itu baru membuka lapangan pekerjaan sebanyak banyaknya, meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar, sebagai tempat studi serta pengembangan budaya, dan sebagai tempat penyaluran ide-ide kreatif masyarakat. Harapannya bisa menjadikan ini sebagai balinya pulau jawa.  Disini juga gua mau ngangkat lagi derajat budayawan atau seniman daerah agar bisa naik kelas.

Siapakah pelaku project ini?
Pelaku project ini adalaha seluruh masyarakat yang ingin terlibat, baik itu masyarakat sekitar ataupun masyarakat dari luar. Tentu saja semua pelaku harus mendapatkan manfaat dari ini semua. Karena dari awal  gua udah bilangin kalau ini bisnis, makanya sistemnya akan berbentuk perusahaan. Perusahaan yang bekerja dalam sektor jasa pariwisata.  Dimana disini akan dikepalai oleh CEO, beberapa kepala bagian dalam sub project, sistem keuangan yang profesional, HR, dan semua bagian yang dibutuhkan dalam perusahaan. Peran dan keuntungan partisipasi masyarakat akan dijelaskan mendetil pada bagiannya masing-masing.

Hambatan terbesar?
Hambatan terbesar adalah mental dan pola pikir masyarakat. Pola pikir yang mementingkan dirinya sendiri, melakukan segala sesuatu berdasarkan uang, rasa pesimis bahwa project akan berhasil, dan pemikiran-pemikiran negatif tentang budayanya sendiri. Jadi untuk memulai project ini bukanlah infrastruktur yang harus dibuat, tapi mental dan pola pikir masyarakat. Pola pikir yang ingin memajukan budayanya, bekerja keras, positif, punya kebanggaan dan proteksi terhadap budayanya, dan mementingkan kepentingan umum dan jangka panjang daripada kepentingan pribadi dan jangka pendek.

Mungkin ini sekilas dari project budaya dan akan gua jelasin mendetil di post lainnya :)



 “Anda membaca kata MLM diatas?? anda benar! Join MLM kami, hidup anda akan berubah menjadi DAHSYAT!!! penghasilan 2juta/hari!! LUARR BIASAA”



Ya kira-kira gtu yang sering gue denger kalau ada yang prospek MLM. Gue pernah nemenin sahabat gue yang “kena” prospek ni MLM. Emang kasihan banget ni anak, gilirannya ada ce yang ngajak kenalan dan ketemuan ternyata malah dibawa ke seminar yang isinya gak jelas.  Sebenernya seminarnya seru, jadi yang cowok pada dandanan klimis pake jas dan pake dasi, yang cewek juga seksi-seksi gitu pake blazer. Udah gitu cowok-cewek makeupnya tebel banget, mungkin sebelum acara itu ada sesi make up bareng atau berendem di kolam bedak. Paling gak nahan sama wanginya, mungkin parfumnya gak cuma di semprot tapi juga diminum, sampe jarak 100 m juga masih kecium, hueeK (pas itu gw sering banget nahan nafas). Walaupun pada keren-keren ala eksmud gitu tapi tetep aja muka gak bisa boong, emang agak terlalu dipaksakan sebenernya (gw gak bisa jelasin mukanya kayak gimana). Ow iya pas itu style gue pake kaos oblong, celana jins sobek2 dan sendal jepit swallow. Nah kalau temen gue gak beda jauh sama gue tapi rada rapih dikit soalnya tadi niatnya mau kenalan. Dengan dandanan yang sangat kontradiksi tadi otomatis gue jadi pusat perhatian di dalam gedung.






Lanjutan post IBUILB Pertanian ya,  post sebelumnya udah sempat jelasin masalah dan ngasih solusi, ini mau jelasin lebih rinci. Tapi gue klarifikasi dulu sebelumnya, kalau lu baca post sebelumnya, lu mungkin ada pemikiran kayak gini ,“Kenapa lu gak masuk jurusan pertanian aja sih? Pake-pake nyindir-nyindir masalah yang bukan bidang lu segala, apa jangan-jangan pacar lu anak fakultas pertanian ya?”. Makanya gue klarifikasi, gue bukan anak pertanian, tapi anak bokap nyokap (yaiyalah). Jurusan gue teknik pertambangan, tp jangan tanya angkatan berapa.haha.. Trus gue gak ada hubungan apapun sama anak pertanian. Kenapa gue gak masuk pertanian, karena kesadaran gue datangnya telat, pengamatan dan cara berpikir gue datangnya telat dimana gue udah mau selesai di prodi sekarang. Ya mudah-mudahan setelah gue lulus dan ngumpulin modal, gue bisa ngelakuin sesuatu. 



Kenapa gue memikirkan pertanian karena ini merupakan keprihatinan gue terhadap sistem pertanian di indonesia. Kenapa gue prihatin? karena anak-anak muda sekarang udah gak tertarik menangani masalah pertanian. Anak-anak petani lebih memilih profesi yang lain, untuk pemuda yang tidak melanjutkan ke jenjang strata satu biasanya mereka lebih memilih kejuruan yang berhubungan dengan otomotif kemudian menjadi buruh di kota besar. Sedangkan fakultas pertanian di jadikan sebagai pilihan terakhir dalam menentukan jurusan di universitas. Banyak banget temen-temen gue yang masuk pertanian beropini, “yang penting kuliah di universitas negri lah”, atau “yang penting kuliah biar lulus gampang” atau “ya kalau lulus biar bisa jadi pns lah”. Terkesan menyedihkan memang, pertanian dianggap hal yang remeh temeh, bahkan salah satu koran nasional pernah memuat artikel tentang mayoritas lulusan Institut Pertanian Bog*or bekerja di Bank.  Terus gw mikir kalau yang “ahli” aja meninggalkan pertanian terus siapa lagi yang mau ngurusin?? padahal pertanian merupakan sektor penting dalam perekonomian nasional.


Kalau mau nyalah-nyalahin kita bisa aja nyalahin pemerintah, kenapa? karena kurangnya perhatian dan manajemen yang baik. Memang benar pernyataan Menteri Pertanian suatu waktu di televi, “petani bisa kaya raya kok kalau mereka memiliki lahan yang puluhan hektar”, permasalahannya dari mana petani bisa punya lahan yang luas? apalagi jaman sekarang?? Lalu siapa yang menggarap kalau dia punya lahan yang luas? sendirian?. Kalau menelisik ke belakang memang rata-rata petani punya lahan tanam yang lumayan luas. Untuk itu istilah Banyak Anak Banyak Rejeki sangat umum pada petani jaman dahulu. karena banyak anak berarti banyak orang yang mengurusi Lahan, apalagi populasi indonesia yang dahulu tidak terlalu padat. Untuk itulah kita sempat bangga sebagai pengekspor beras, lada, tembakau, cengkeh, dll. Tapi kondisi sekarang telah berbeda, Tagline Banyak Anak Banyak Rejeki telah  menghancurkan juga kesejahteraan petani. Gini penjelasanya: pasangan petani punya 1 hektar tanah, kemudaian dia punya 10 anak sehingga setelah meninggal dia memecahnya rata kepada masing-masing ahli waris. (10.000m2 : 10 = 1000 m2), ahli waris tersebut kemudian membaginya lagi kepada anaknya yang berjumlah 5 (1000 m2 : 5 = 200 m2). Jadi pada generasi ke tiga keluarga petani tersebut hanya mendapatkan luas lahan sebanyak 200m2).  dan itu belum  termasuk penjualan lahan untuk pembalian tempat tinggal.

Selain masalah luas lahan, permasalahan lain terdapat pada sistem ekenomi yang dilakukan oleh petani. Sistem ini sering gw samakan dengan sistem gambling (peruntungan). Ya kalau kita membuka suatu usaha memang berdasarkan peruntungan, untung ada yang beli, untung kalau gak rugi. Tapi sistem ini sedikit berbeda di petani, kalau kita buka toko kita bisa estimasi berapa jumlah pembeli, berapa keuntungan yang di dapat. Tapi kalau di pertanian kita akan selalu bergantung dengan momok bernama harga pasar. Jadi gini contoh gampangannya : kita mulai menanam cabai dengan modal Rp. 1.000.000, kemudian panen 3bulan kemudian dengan biaya produksi Rp.500.000. perkiraan kita dengan produksi 1kwintal harga sekarang 35ribu/kg maka akan mendapatkan Rp3.500.000. maka akan untung yang didapat 2juta rupiah/3bulan= Rp.660.000. Tapi apa petani memang mengincar itu? tidak, petani juga punya angan-angan kalau saat dia panen harganya bisa 70ribu/kg maka dia bisa untung 1,8juta/bulan. tapi masalahnya bagaimana kalau saat itu supply barang dipasar akan cabai banyak, dan harganya hanya menjadi 25ribu/kg. atau bagaimana ternyata musim ini adalah musim hama dan tikus sehingga hanya 20% yang bisa terpanen?. Yap itu semua adalah kenyataan di lapangan pertanian. walapun harga yang gue pake buat contoh tadi cuma estimasi yang gue tau.
Dari faktor-faktor itulah gue harus memberikan solusi, karena mengeluh tanpa solusi adalah kejahatan. Solusi yang baik adalah solusi yang menyelesaikan masalah. Masalahnya kita kelompokin jadi dua :
1.       Luas lahan petani yang terbatas
2.       Jumlah produksi dan Harga jual yang tidak pasti
Menambah luas lahan petani dirasa tidak efektif untuk dilakukan, karena lahan hubungannya erat dengan tempat tinggal, pembukaan lahan baru merupakan solusi dengan cara yang rumit dan pertimbangan biaya yang mahal. Hal ini akan menimbulkan masalah baru  kedepannya kecuali problem ini diselesaikan oleh badan yang memiliki kuasa besar seperti kementrian pertanian. Pembabatan lahan hutan / gambut seperti pada perkebunan sawit dirasa hanya menguntungkan pihak pemodal besar dengan banyak kerugian terhadap ekosistem dan biotanya termasuk masyarakat.
Untuk itu penyelesaiannya hanya dengan memaksimalkan lahan yang ada, jumlah produksi dan pengendalian harga jual. ada beberapa ide yang bisa digunakan, hal itu akan dijelaskan di post selanjutnya.  

Post ke dua moga-moga lebih berbobot materinya, kali ini gw mau nge share ide gw, ide bisnis, jadi gw punya segudang ide-ide bisnis yang gw siapin buat cita-cita gw jadi mamang jualan (mamang jualan istilah gw buat kata yang ce matre sebut itu “pengusaha” atau  co oportunis sebut itu“entrepreneur”).